Bicara tentang anak kecil, pasti yang kita pikirkan itu adalah dunia mereka yang penuh kesenangan & kegembiraan, tidak mengenal rasa khawatir tentang apa yang akan dimakan atau apa yang dipakai & tidak punya agenda mau ngapain atau harus ngapain, just free & nge-flow aja udah. Rutinitasnya hanya melakukan semua yang mereka suka sepanjang hari, bisa dibilang hidup dengan kebebasan seutuhnya walaupun terkadang suka memaksa untuk setiap apa yang diinginkannya.
Sangat berbeda dengan orang dewasa yang lebih skematis, mulai dari bangun pagi diurut secara sistematis satu persatu sampai pada malam hari, apa aja yang akan mereka kerjakan seharian itu, dan itu dilakukan every single day. Bahkan uniknya kebanyakan orang dewasa bisa melalui rutinitas yang seperti itu sekalipun itu hal yang mereka tidak sukai.
Anak kecil dengan kepolosannya, orang dewasa dengan logikanya. Anak kecil dengan hal-hal yang disukainya, orang dewasa dengan segala rutinitasnya yang mau ngga mau harus dilalui dengan usaha terbaiknya. Anak kecil cenderung tidak teratur, bebas, murni, tulus dan apa adanya sedangkan orang dewasa sebaliknya lebih teratur, terskema, penuh perencanaan & terkadang ada intrik dalam mencapai tujuannya.
But guys, Alkitab mencatat:
"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya." (Markus 10:15).
Tuhan Yesus menggunakan perumpamaan "seorang anak kecil" dalam hal menyambut Kerajaan-NYA, Why? Ok guys, ada beberapa poin yang mau saya bagikan, tentang alasan mengapa Tuhan Yesus menggunakan perumpamaan "seorang anak kecil" dalam hal menyambut Kerajaan-NYA:
"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya." (Markus 10:15).
Tuhan Yesus menggunakan perumpamaan "seorang anak kecil" dalam hal menyambut Kerajaan-NYA, Why? Ok guys, ada beberapa poin yang mau saya bagikan, tentang alasan mengapa Tuhan Yesus menggunakan perumpamaan "seorang anak kecil" dalam hal menyambut Kerajaan-NYA:
Coba kita perhatikan gimana reaksi seorang anak kecil jika ayahnya baru pulang kerja? baru aja kedengaran suara motornya, seorang anak kecil dengan penuh kegembiraan / sukacita langsung berlari sambil berteriak papa...papa...udah pulang... dan terus nemplok di paha ayahnya, belum juga ayahnya duduk, anak kecil ini udah mulai cerita segala hal ke ayahnya, mulai dari hal-hal yang unik yang dia lalui seharian itu, sampai ke perihal tadi dimarahin ibunya karena susah makan. So, gimana respon kita dalam menyambut DIA, BAPA kita yang bertahta di kerajaan sorga? apakah dengan penuh sukacita, seperti anak kecil menyambut ayahnya yang baru pulang kerja itu?
Guys, perkenanan Tuhan datang dengan 2 cara, pertama melalui tantangan hidup / pergumulan & kedua melalui berkat.
Ketika tantangan hidup itu datang gimana respon kita? apakah kita sambut dengan sukacita & dengan iman yang teguh, bahwa tantangan hidup tersebut merupakan ujian supaya kita naik kelas? atau apakah kita sambut dengan rasa khawatir & bersungut-sungut? sedangkan, ketika berkat kita terima, gimana respon kita? sudah pasti kita bersukacita, tapi apakah kita terlarut dalam euforia karena kita menerima berkat itu sehingga kita lupa untuk datang kepadaNYA mengucap syukur?
So guys, be rejoice like a children..
Guys, perkenanan Tuhan datang dengan 2 cara, pertama melalui tantangan hidup / pergumulan & kedua melalui berkat.
Ketika tantangan hidup itu datang gimana respon kita? apakah kita sambut dengan sukacita & dengan iman yang teguh, bahwa tantangan hidup tersebut merupakan ujian supaya kita naik kelas? atau apakah kita sambut dengan rasa khawatir & bersungut-sungut? sedangkan, ketika berkat kita terima, gimana respon kita? sudah pasti kita bersukacita, tapi apakah kita terlarut dalam euforia karena kita menerima berkat itu sehingga kita lupa untuk datang kepadaNYA mengucap syukur?
So guys, be rejoice like a children..
Dengan segala rutinitas yang disukainya, seorang anak kecil juga meminta hal-hal yang disukainya kepada orang tua mereka. Kalau mereka merasa senang main mobil-mobilan, mereka akan meminta dibelikan mobil-mobilan kepada orang tua mereka. Motivasi mereka cuma satu, yaitu "mereka senang bermain mobil-mobilan". Karena kebutuhan/hal yang diperlukan anak kecil itu hanya kesenangan, that's it. So, kalau kita gimana? apakah ketika kita datang kepada Tuhan, kita meminta apa yang benar-benar kita butuhkan? atau kita meminta hal-hal yang kita mau aja untuk alasan hal yang lain? kebanyakan kita dalam hal meminta kepada Tuhan, kita meminta untuk alasan yang lain, yang merupakan bukan kebutuhan kita. Sebagai contoh: Seorang pemuda berdoa supaya Tuhan memberikannya talenta bermain alat musik, itu merupakan hal yang baik tapi dibalik itu dia punya motivasi yang lain yaitu agar dia mendapat perhatian dari pemudi-pemudi di komunitasnya. Atau misalnya, kita berdoa meminta berkat / kelimpahan kepada Tuhan, itu baik, tapi apakah motivasi kita bercabang? apakah kita berdoa demikian karena demi "status" di masyarakat atau karena demi suatu pujian/pengakuan dari orang-orang kalau kita ini "Orang Berhasil"? Guys, ngomongin harta / kekuasaan / kehormatan ngga bakal ada habisnya kalau kita ngga punya "rasa cukup" dalam diri kita sendiri. Dalam doa yang diajarkan Tuhan, Doa Bapa Kami, disebutkan "..berikanlah kami pada hari ini makanan kami yg secukupnya", that's enough. Tapi bukan berarti kita ngga boleh jadi orang kaya, karena janjiNYA: "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33) itu ya & amin.
So guys, be honest like a children..
So guys, be honest like a children..
Untuk setiap hal-hal yang disukainya bahkan segala hal apapun, seorang anak kecil akan meminta kepada orang tuanya, bukan meminta kepada orang lain. Seperti anak kecil kepada ayahnya, ketika mau permen mereka minta ke ayahnya, ketika mereka haus mereka minta ke ayahnya untuk diambilkan minum, ketika mereka tidak sampai untuk mengambil mobil-mobilan di lemari mereka minta ayahnya untuk mengambilkannya, ketika malam hari mereka mau ke kamar mandi karena gelap mereka minta ayahnya untuk menemaninya, ketika mereka diganggu saudara-saudaranya mereka berlari berlindung dipelukan ayahnya, dan masih banyak hal lagi. Jadi bisa disimpulkan, bahwa anak kecil "tau benar" kalau ayahnya mampu melakukan segala hal yang diinginkannya. Mereka benar-benar bergantung sepenuhnya kepada ayahnya & hanya mengandalkan ayahnya, tidak bergantung / mengandalkan orang lain. Bukankah kita juga harus demikian kepada BAPA kita yang bertahta di kerajaan sorga?
Dalam perjalanan hidup, ketika pasti menemukan & menghadapi tantangan. Apa yang kita lakukan? apakah kita langsung datang kepada Tuhan untuk meminta pertolongan daripadaNYA karena kita percaya, bahwa Tuhan itu sanggup menyelesaikannya? atau apakah kita malah sekuat tenaga berusaha untuk keluar dengan kekuatan kita sendiri? atau apakah kita malah sibuk mencari pertolongan kepada sahabat / kerabat yang memiliki kekayaan / kehormatan tertentu?
Guys, firman Tuhan dengan tegas mengatakan:
"Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!"" (Yeremia 17:5), juga
"Maka berbicaralah ia, katanya: "Inilah firman TUHAN kepada Zerubabel bunyinya: Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam." (Zakaria 4:6).
Dalam perjalanan hidup, ketika pasti menemukan & menghadapi tantangan. Apa yang kita lakukan? apakah kita langsung datang kepada Tuhan untuk meminta pertolongan daripadaNYA karena kita percaya, bahwa Tuhan itu sanggup menyelesaikannya? atau apakah kita malah sekuat tenaga berusaha untuk keluar dengan kekuatan kita sendiri? atau apakah kita malah sibuk mencari pertolongan kepada sahabat / kerabat yang memiliki kekayaan / kehormatan tertentu?
Guys, firman Tuhan dengan tegas mengatakan:
"Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!"" (Yeremia 17:5), juga
"Maka berbicaralah ia, katanya: "Inilah firman TUHAN kepada Zerubabel bunyinya: Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam." (Zakaria 4:6).
So guys, just believe in GOD that He's can & nothing is impossible for HIM..
Semoga tulisan yang Simple ini memiliki rema yg Special untuk setiap pembaca, terutama untuk saya sebagai penulis.
Thank's & Have a Blessed Life guys..
Thank's & Have a Blessed Life guys..



